Mengenai Saya

Ketika kita diam maka semua sepertinya tidak ada persoalan tetapi ketika kita bersuara maka mereka akan tau bahwa kita mempunyai persoalan, yang harus di selesaikan. Kebenaran harus ditegakan, untuk mendapatkan kebenaran harus berjuang karena kebenaran telah tertindas, dan telah dengan sengaja ditutupi.....'aku merasa tertindas, apakah kamu merasa hal yang sama seperti aku sebelum aku akan mulai memposting blog ini aku mohon agar di mengerti semua bahasa atau kosa kata yang penulis buat di sini tidak ada komentar buat hal tidak benar dengan kata lain tidak membrikan ijin bagi siapapun yang menipu diri orang lain berarti telah menipu dirinya sendiri.........................

Selasa, 25 Maret 2014

TUJUAN MAU MENJENGUK KELUARGA KORBAN TIMIKA AKHIRNYA DI PALANG APARAT KEPOLISIAN DAN KEJADIAN SUDA SERING TERJADI

 
Jayapura,  20/3 (Jubi) – Ketua Sinode Gereja Kemah Injili (Kingmi) di Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay menyesalkan tindakan yang dilakukan aparat keamanan dengan memalang jalan sehingga para gembala tak dapat melayat di rumah duka korban yang tertembak oleh oknum polisi saat bentrok warga di Mimika.
“Kemarin tanggal 17 Maret 2014, kami sebagai gembala bermaksud mengunjungi keluarga dari pendeta jemaat kami yang tertembak oleh oknum polisi pada 11 Maret lalu di Timika. Tetapi kami diusir polisi yang sudah memalang jalan di Kuala Kencana,” kata Benny dalam jumpa persnya di Kantor Sinode Kingmi di Tanah Papua, Kota Jayapura, Papua, Kamis (20/3).
Benny mengatakan, kejadian ini bukan kali pertama terjadi di tanah Papua. Pada tahun lalu dirinya juga mendapatkan perluan serupa, yakni 16 – 17 Juli 2012 lalu, saat pihaknya bermaksud untuk menemui umat yang bentrok. Kedua belah pihak sudah menunggu pihaknya untuk berbicara kepada mereka secara terpisah dari hati ke hati sebelum berbicara tentang akar-akar persoalan.
“Tapi pagi-pagi jam lima, TNI-Polri sudah menggelar apel dan jam enam mereka sudah bergerak ke lokasi dari kedua kubu lalu melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah membuat masyarakat terpencar dan menggagalkan rencana pertemuan kami dengan umat kami,” jelas Benny.
Menurut Benny, hal ini perlu disampaikan karena pihaknya menilai akar persoalan Papua adalah persoalan antara dua kebudayaan, pemahaman dan penafsiran terhadap sejarah yang berbeda satu dengan yang lain.
“Persoalan itu hanya bisa diselesaikan dengan dialog. Hentikan segala bentuk kebijakan yang dilakukan untuk menghabiskan Papua secara perlahan tetapi pasti,” tutur Benny.
Atas dasar itulah, menurut Benny, pihaknya mengeluarkan surat terbuka terkait bentrok di Kabupaten Mimika dan secara keseluruhan di tanah Papua. Surat itu juga dilayangkan kepada Presiden RI, Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Polisi Sulistyo Pudjo Hartono saat dikonfirmasi terkait hal tersebut melalui telepon selulernya untuk sementara belum bisa dihubungi. “Saya sedang rapat,” tulisnya dalam Short Masage Service (SMS) kepada media ini saat menolak untuk ditelepon, Kamis (20/3)



Minggu, 09 Maret 2014

SOAL PAPUA MENUNGGU KEPUTUSAN TUHAN ALLAH, Kata Djoko Suyanto

                          "Soal Papua Menunggu Keputusan Tuhan", Kata Djoko Suyanto


                                                                 Oleh: Selpius Bobii.   

                                                                                                            Penjara Abepura, 09 Agustus 2013

"Soal Papua menuggu keputusan Tuhan", demikian kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan RI, Djoko Suyanto; (sumber: www.rusdimathari.wordpress.com/2011/11/14/iklan-kemerdekaan-papua/; www.islamtimes.org/vdcbgab8wrhb8sp.qnur.html).
Pernyataan Djoko Suyanto: "Soal Papua menunggu waktu Tuhan", ini disikapi oleh Rusdi Mathari dalam artikelnya dengan judul: "Iklan Kemerdekaan Papua". Berikut ini kutipan tanggapannya: "Apakah yang salah dengan keinginan sebuah bangsa untuk merdeka? Ataukah haruskah urusan Papua diserahkan kepada Tuhan, seperti yang dikatakan Menko Polhukam, Djoko Suyanto; dan sementara menunggu keputusan itu, kita akan membiarkan orang orang (Papua) terus hidup dengan menyedihkan?", demikian cuplikan kutipan artikel Rusdi, (sumber: www.rusdimathari.wordpress.com/2011/11/14/iklan-kemerdekaan-papua/).
Ada pula tanggapan serupa dimuat dalam media Islam Times, berikut ini cuplikan komentarnya: "Jadi, pak Menko Polkam mau bilang, kita biarkan saja orang Papua terus hidup dengan menyedihkan, nanti datang mukjizat Tuhan membebaskan mereka", Islam Times/on/K-014, (Sumber:  www.islamtimes.org/vdcbgab8wrhb8sp.qnur.html). 
Pernyataan Djoko Suyanto: "Soal Papua menunggu waktu Tuhan", pernyataan ini memiliki penuh makna dan misteri. Pernyataan Djoko itu tentu dilatar belakangi oleh  faktor internal dan eksternal. Ada unsur pertimbangan politik dan iman tersirat dalam pernyataan Djoko dimaksud. 

PERPEKTIF POLITIK
Dari perpektif politik, saya menampilkan tiga analisa politik yang tersirat di balik pernyataan Djoko ini.
Pertama, pernyataan Djoko di atas menunjukkan ketidak-sediaan Negara Indonesia untuk membahas tuntas berbagai masalah Papua dan mencari solusi yang tepat bagi Papua. Penerapan UU Otonomi Khusus Papua secara sepihak, dan yang kini secara sepihak pula merekonstruksi UU Otsus Papua dalam bentuk draft UU Pemerintahan Papua yang disebut UU Otsus Plus; penerapan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), berbagai pemekaran propinsi, kabupaten, kota, distrik dan kampung di tanah Papua adalah bagian dari upaya upaya RI untuk menunda-nunda waktu penyelesaian masalah masalah Papua.
Walaupun ada desakan kepada RI dari beberapa negara di dunia dan masyarakat solidaritas Internasional untuk menyelesaikan masalah masalah Papua melalui dialog bermartabat antara Bangsa Papua dan Bangsa Indonesia, namun Negara Indonesia belum memiliki kemauan untuk berdialog dengan bangsa Papua, yang difasilitasi oleh pihak ketiga yang netral. Di tengah arus desakan itu, RI mengambil langkah secara sepihak, seperti rekonstruksi UU Otsus Papua yang menjadi UU Pemerintahan Papua. Langkah rekonstruksi UU Otsus Papua ini bukanlah penyelesaian masalah masalah Papua, tetapi justru menciptakan masalah baru bagi Papua.
Banyak pihak sering kali bertanya: "masalah Aceh dapat diselesaikan dengan baik melalui perundingan antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsingki, di mana melahirkan kesepakatan bersama, tetapi mengapa masalah Papua tidak bisa dibicarakan dalam sebuah perundingan antara Papua dan Indonesia yang difasilitasi oleh pihak ketiga yang netral?" Mengapa RI merasa berat berdialog dengan bangsa Papua? Memang esensi masalah Papua berbeda dengan masalah Aceh. RI tahu letak kelemahannya. Maka itu, RI berusaha menghindari berbagai lubang yang telah digali oleh RI dan para sekutunya.
Kedua, pernyataan Djoko di atas juga menunjukkan ketidak-sanggupan Negara Indonesia untuk menangani dan menyelesaikan masalah masalah Papua. RI berusaha menghindari lubang lubang yang telah dan sedang digalinya. Untuk itu, selama ini Republik Indonesia menempuh berbagai upaya, baik itu penerapan pendekatan keamanan, hukum, sosial budaya, dan kesejahteraan yang semu. Tetapi Negara Indonesia tidak mampu meng-indonesia-kan orang asli Papua. Buktinya di tengah represif aparat Indonesia, perjuangan Pembebasan bangsa Papua semakin tumbuh dan meningkat. Kini aspirasi politik Papua Merdeka menggema di berbagai manca negara. 
Berbagai upaya yang ditempuh oleh RI selama ini untuk menghadapi perjuangan bangsa Papua itu bukan untuk menutupi lubang pertama yang digali oleh RI dan para sekutunya, tetapi semakin memperlebar dan memperdalam lubang pertama dan terutama itu. Dan seiring dengan itu membuka lubang lubang baru. Ketidak-mampuan RI untuk menyelesaikan masalah masalah Papua itu, bukan karena RI tidak mampu dalam hal berdiplomasi politik, dan bukan pula karena tidak mampu dalam hal sarana prasarana pendukung lainnya. Tetapi ketidak-mampuan RI dalam menghadapi dan melewati lubang-lubang yang pernah dan sedang digalinya. Dan juga ketidak-mampuan RI dalam menghadapi perjuangan bangsa Papua dengan jalan damai yang telah diputuskan dalam Kongres Bangsa Papua kedua pada tahun 2000.
Ketiga, karena itu Negara Indonesia membiarkan masalah-masalah Papua terus membara, tanpa ada solusi antara dua bangsa dan dua negara yang setara. Pernyataan Djoko di atas itu menunjukkan bahwa RI terus dan mau membiarkan masalah masalah Papua tanpa menangani dan menyelesaikannya melalui sebuah perundingan Papua dan Indonesia yang difasilitasi oleh pihak ketiga yang netral dan dilaksanakan ditempat yang netral. Dengan membiarkan masalah masalah Papua tanpa mencari solusi bermartabat, maka orang Papua semakin dimarginalisasi, didiskriminasi, diminoritasi, dibantai, dan bahkan berdampak pada pemusnahan etnis Papua bergerak secara perlahan lahan tetapi pasti (slow moving genocide).

Kata orang bijak: "masalah dibuat oleh manusia, maka manusialah yang dapat menyelesaikannya". RI dengan berani dan dengan penuh kesadaran telah dan sedang menggali berbagai lubang, maka RI seharusnya mencari solusi bermartabat untuk menutupi lubang-lubang itu.
Untuk menutupi lubang-lubang itu, ke depan RI harus berani dan mau melibatkan para pejuang Papua merdeka. Dalam kasus Papua Barat, pihak Internasional juga turut terlibat dalam aneksasi bangsa Papua ke dalam NKRI. Maka itu, RI juga berani dan mau melibatkan pihak internasional, seperti Belanda, Amerika Serikat dan PBB yang pernah bersama dengan RI menggali lubang pertama dan terutama itu yaitu aneksasi bangsa Papua ke dalam NKRI secara sepihak yang berpuncak pada "Pelaksanaan Pendapat Rakyat Papua" yang "Cacat Hukum dan Moral" pada tahun 1969. Jika para aktor pejuang Papua dan pihak internasional (khususnya Belanda, Amerika Serikat dan PBB) tidak dilibatkan dalam menangani dan menyelesaikan masalah masalah Papua, maka lubang-lubang yang pernah dan sedang digali oleh RI dan para sekutunya itu tidak akan pernah ditutup kembali, dan justru lubang lubang baru akan semakin bertambah. 
Dari perpektif politik, saya simpulkan bahwa pernyataan Djoko di atas adalah bukti bahwa RI masih belum bersedia untuk menangani dan menyelesaikan masalah masalah Papua. Alasannya adalah bahwa RI merasa berat untuk melewati lubang-lubang yang pernah dan sedang digalinya. RI belum mampu untuk menuntuskan masalah masalah Papua. Apakah RI akan memberanikan diri, dan atau apakah RI akan diberanikan oleh pihak pihak lain untuk menuntaskan masalah-masalah Papua Barat? Hal ini menjadi misteri.

PERPEKTIF IMAN

Dalam ulasan selanjutnya, saya menyoroti pernyataan Djoko dimaksud di atas dari perpektif iman. Pernyataan Djoko Suyanto memang teka teki dan penuh misteri. Apakah pernyataan itu diungkapkan oleh Djoko atas pergumulan pribadi? Ataukah Djoko hanyalah menjadi penyambung lidah atas pergumulan pihak lain? Hanyalah Djoko dan Tuhan yang tahu. Di balik pernyataan itu, saya menilai bahwa seakan akan Djoko telah mendapat ilham atau penampakan atau wahyu dari Tuhan bahwa masalah Papua itu berurusan dengan Tuhan.
Dalam pernyataan Djoko itu secara tersirat menyatakan bahwa RI tidak mampu menangani dan menuntaskan masalah masalah Papua, maka itu RI menyerah dan berpasrah kepada Tuhan. Dan RI menunggu Tuhan untuk mengambil keputusan atas persoalan Papua. Dan selanjutnya Tuhan akan bertindak untuk menangani dan menuntuskan masalah masalah Papua (mukjizat Tuhan). Dalam kata lain bahwa pernyataan Djoko itu menantang dan menguji Tuhan agar Tuhan bertindak untuk menuntuskan persoalan Papua Barat.
Memang masa depan Bangsa Papua bukan berada dalam rancangan siapa pun atau negara mana pun di dunia ini. Masa depan bangsa Papua berada dalam rancangan Tuhan. Menurut DR. Benny Giay bahwa "perjuangan bangsa Papua bergerak dari satu episode ke episode berikutnya". Dan pasti akan sampai pada episode puncak. Ini bukan rencana manusia, tetapi ini rencana Tuhan.

Pdt. Isak Samuel Kejne pada tanggal 25 Oktober 1925 di Automeri, di saat beliau meletakan simbol peradaban bangsa Papua dan nubuatan, mengatakan: "Di atas batu ini, ku meletakan peradaban bangsa Papua. Walaupun bangsa-bangsa lain di dunia datang membangun negeri ini, dengan berbagai hikmat dan mah'rifat, tetapi mereka tidak akan mampu membangun negeri ini. Suatu saat bangsa ini akan bangkit untuk membangun dirinya sendiri".
Pernyataan Kejne ini bukanlah sebuah pernyataan retorika atau fiktif belaka, atau sebuah penelitian ilmiah. Ini adalah sebuah nubuatan (wahyu) dari Tuhan melalui abdi-Nya, Pdt Kejne. Nubuatan ini menginspirasi dan memberi harapan bagi setiap orang Papua untuk terus berjuang menuju ke penggenapan nubuatan itu. Nubuatan ini pasti akan digenapi indah pada waktu Tuhan, bukan pada waktu yang ditentukan oleh manusia.
Begitu banyak nubuatan Tuhan yang telah disampaikan melalui para abdi-Nya tentang masa depan bangsa Papua. Nubuatan nubuatan itu bukan halusinasi, bukan juga mimpi di siang bolong, tetapi nubuatan nubuatan Tuhan kepada para abdi-Nya itu, pasti akan digenapi indah pada waktu Tuhan.
Djoko Suyanto sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan RI melalui pernyataannya telah menantang dan menguji kedaulatan Tuhan atas ciptaan-Nya. Di balik pernyataan Djoko itu tersirat kepasrahan RI kepada Tuhan untuk menuntaskan masalah Papua, karena RI tidak mampu menyelesaikannya. Kepasrahan itulah iman. Dan saya yakin Tuhan pasti akan bertindak dengan cara memakai para abdi-abdi Tuhan, rakyat semesta Papua dan simpatisan solidaritas Internasional, baik secara pribadi, lembaga non pemerintah, pemerintah dan PBB untuk menyelamatkan kedaulatan Umat Tuhan yang sedang berada dalam penjajahan oleh RI di Tanah Papua.
Camkanlah bahwa Tuhan membutuhkan manusia sebagai mitra kerja-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia ini. Seperti Tuhan mengutus nabi Musa dari tanah Median ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Firaun dan kaumnya, seperti Tuhan mengangkat Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, Tuhan juga membutuhkan manusia pada jaman ini, untuk diutus sebagai Musa dan Yosua baru, untuk membebaskan bangsa Papua dari segala bentuk tirani penindasan. Seperti tangan Tuhan menyertai nabi Musa dan Yosua, tangan Tuhan pun selalu menyertai siapa pun abdi-Nya yang diutus oleh Tuhan untuk membebaskan bangsa Papua dari belenggu penjajahan RI dan para sekutunya. Mukjizat Tuhan selalu menyertai para abdi-Nya yang diutus Tuhan, seperti berbagai mukjizat dari Tuhan menyertai nabi Musa dan Yosua.
Tuhan mengutus siapa pun yang Ia kehendaki. Dalam pengutusan itu, Tuhan tidak membedakan latar belakang suku, ras, golongan, jenis kelamin, pekerjaan, umur, dan agama. Tuhan hanya membutuhkan kerelaan hati dari umat manusia untuk mau menjadi mitra kerja-Nya untuk melaksanakan tugas perutusan-Nya hanya demi kemuliaan nama Tuhan.
Camkanlah bahwa Tuhan senantiasa memanggil dan menunggu kesiapan dan keputusan umat-Nya untuk diutus membebaskan umat-Nya dari belenggu penjajahan. Khusus untuk internal bangsa Papua, Tuhan senantiasa memanggil dan menunggu kerelaan setiap individu untuk membangun Persatuan Nasional Papua dan Pemulihan Diri untuk maju melangkah bersama menuju puncak revolusi iman (kemenangan iman). Dan untuk Indonesia, Tuhan senantiasa memanggil dan menunggu membuka hatinya dan rela untuk menangani dan menuntaskan masalah masalah Papua Barat. Tuhan juga senantiasa memanggil dan menunggu kerelaan hati dari masyarakat Internasional, baik secara individu, lembaga non pemerintah, Pemerintah maupun PBB untuk mendengar dan bertindak atas jeritan dan teriakan pembebasan dari rakyat bangsa Papua Barat.
Saat ini, Tuhan sedang memanggil nama Anda di mana pun Anda berada, seperti Tuhan memanggil nabi Musa untuk membebaskan umat-Nya bangsa Israel. Siapa pun yang mendengar suara Tuhan, siapa pun yang membuka hatinya, Tuhan mengutusnya untuk membebaskan umat-Nya di Tanah Papua, baik dukungan secara langsung maupun secara tidak langsung. Apakah Anda mengalami, atau melihat, atau mendengar, atau membaca atas penderitaan, jeritan dan teriakan pembebasan umat Tuhan di tanah Papua?
Tuhan telah mendengar jeritan dan teriakan pembebasan bangsa Papua dari penindasan RI. Karena itu, Tuhan sudah dan sedang memanggil umat manusia siapa pun Anda, (sama seperti nabi Musa) untuk bebaskan umat Tuhan di tanah Papua. Apakah Anda mendengar bahwa Tuhan sedang memanggil nama Anda untuk menolong sesama umat manusia yang dibelenggu tirani penindasan di Tanah Papua? Apa respon Anda terhadap panggilan Tuhan itu?
Akhirnya, pernyataan Djoko Suyanto: "Soal Papua menunggu keputusan Tuhan", pernyataan ini sangat menantang/menguji Tuhan dan menantang setiap umat manusia yang menjunjung tinggi nilai nilai kebajikan, seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, Hak Asasi Manusia, demokrasi dan kedamaian agar mengambil sikap dan diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menuntaskan masalah masalah Papua. Pernyataan Djoko Suyanto selaku Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI adalah juga merupakan seruan minta tolong kepada solidaritas Internasional, negara-negara di dunia dan PBB untuk intervensi kemanusian/keamanan dalam rangka menuntaskan masalah masalah Papua, karena Negara Indonesia sudah tidak mampu lagi menangani dan menyelesaikan masalah masalah Papua dan oleh karena itu, RI melalui Djoko Suyanto sudah pasrah kepada Tuhan dengan mengatakan: "Soal Papua menunggu keputusan Tuhan".
Bagi Anda yang peduli, bagi Anda yang berhati mulia, bagi Anda yang menjunjung tinggi nilai nilai kebajikan, bagi Anda yang merasakan penjajahan di mana saja Anda berada: "Sudah saatnya mengambil sikap, bersatu padu, dan bertindak bersama dengan jalan damai untuk selamatkan bangsa Papua".
"Keselamatan jiwa jiwa umat manusia yang dibelenggu tirani tirani penindasan adalah hukum tertinggi"


Penulis: Selpius Bobii, Ketua Umum Front PEPERA Papua Barat, juga sebagai Tahanan Politik Papua Merdeka di Penjara Abepura.


Minggu, 29 Desember 2013

GEREJA DI TANAH PAPUA PUTUSKAN BERGABUNG DENGAN KONFERENSI GEREJA PASIFIK


Jayapura, 8/11 (jubi) – Gereja-gereja di Papua Barat memutuskan untuk bergabung dengan blok Pasifik (Pacific Conference of Churches) sebagai sebuah langkah terbuka terhadap penentuan nasib sendiri paska sidang Majelis Dewan Gereja Dunia ke-10 di Busan, Korea Selatan, yang berakhir hari ini (8/11).


“Kami adalah orang-orang Pasifik dan percaya bahwa hubungan budaya dan geografis kita membawa kita untuk bergabung dengan PCC dan saudara-saudara kita di wilayah (Pasific-Red) ini,” kata Leonard Imbiri, salah satu delegasi Papua Barat yang hadir dalam sidang Dewan Gereja Dunia ini kepada Jubi (8/11).
Seminggu bekerja bersama rekan-rekan dari Gereja-Gereja Pasifik, menurut Leonard, telah membawa mereka lebih dekat kepada komunitas Gereja Pasifik.
“Pekerjaan gereja-gereja Pasifik dalam penentuan nasib sendiri sangat menggembirakan dan kami ingin menjadi bagian dari itu.” lanjut Leonard.
Sekretaris Jenderal Pacific Conference of Churches, Pendeta Francois Pihaatae, dalam kesempatan yang sama, kepada Jubi mengatakan jika ia telah mendengar keinginan Gereja di Papua Barat untuk menjadi anggota PCC. Meski disebutkan beberapa kali usaha gereja-gereja Papua untuk bergabung dengan PCC ditentang oleh Konferensi Kristen Asia (CCA), Pendeta Francois Pihaatae sangat menyambut baik langkah tersebut.
“Saya telah diberitahu oleh sumber dalam CCA bahwa mereka tidak keberatan untuk gereja-gereja Papua bergabung dengan PCC.” kata Pendeta Francois Pihaatae.
Selama berlangsungnya sidang Dewan Gereja Dunia ini, didukung oleh perwakilan gereja-gereja Australia dan Papua Barat, perwakilan Pacific berbicara menentang apa yang mereka sebut sebagai penyalahgunaan sumber daya, penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan dan kegagalan untuk mengambil tindakan terhadap dampak perubahan iklim serta penentuan nasib sendiri.
“Para pemimpin kita juga harus berbicara tentang isu-isu penentuan nasib sendiri bagi masyarakat adat termasuk di Papua Barat, suku Aborigin di Australia dan tempat lain di seluruh Pasifik,” kata Pastor Roberta Stanley dari Uniting Church di Australia.
Salah satu aktivitas perwakilan Pasific adalah meluncurkan sebuah petisi yang meminta dan menyerukan kepada dunia untuk mengakhiri pembunuhan sewenang-wenang di Papua Barat yang dilakukan oleh pasukan keamanan Indonesia. Petisi ini telah ditandatangani oleh 12 anggota PCC dan telah diserahkan kepada World Conference Church (WCC), kemarin (Kamis, 7/11).
“Gereja-gereja berharap petisi tersebut akan merupakan bagian dari pernyataan penutupan WCC hari ini kata Pendeta Francois Pihaatae . (Jubi/Victor Mambor)



Selasa, 24 Desember 2013

Natal Bangsa Papua Memberkati Bangsa-Bangsa Terkusus Indonesia

Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.............
Bangsa Papua selamat merayahkan natal dan tahun baru pada kesempatan ini saya mengajak kita untuk mengintrospeksi dirikita lebih jauh kususnya perjuangan kita, karen kita melawan sesuatu yang bukan milik Tuhan dan "akan menjadi milik Tuhan" kepulauwan indonesia ini merupakaan bagian yang tak terpisahkan dari pemiliknya yaitu Tuhan sendiri yang menjadi raja diatas segala raja namun kita perlu tauh bahwa kita telah diberikan tempat yang berbeda-beda yang menjadi milik kepunyaan kita yaitu tanah pulau dan sumber daya alam yang berdiam di dalam pulau tersebut, indonesia telah diberikan Tuhan dari sabang hingga maluku atau ambouina, sehingga kita sebagai orang-arang yang memperjuangankan agar papua merdeka akan dan suda didengar oleh Tuhan yang menjadi raja atas pulau-pulau yang kita diami disini yaitu papua, kita tidak akan pernah salah untuk memperjuangkan kebebasan pulau kita, karena itu adalah kehendak Tuhan karena Tuhan tidak mau kita adalah anak-anakNya menderita, yaitu anak-anak Tuhan Yesus Kiristus memperjuangkan hal yang benar karena Tuhan tidak mau kita terjajah atau terhimpit oleh onak duuri dan batu-batu sehingga iman kita akan mati. karena rencana Tuhan yang sangat besar untuk bangsa papua yang berkulit hitam berambut kering gimbal untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa didunia terkusus indonesia dengan jumblah muslim terbesar didunia, Tuhan menghadirkan bangsa papua untuk menginjili bangsa indonesia menyelamatkan mereka. Kita harus sadar betul apa maksud Tuhan ketika kita berada di indonesia sekarang maupun nati ketika kita merdeka karena kita adalah milik kepunyaan Tuhan dengan pulau yang terkaya di seluru bumi dan masih banyak lagi yang Tuhan akan tunjukan ketika kita merdeka maka semua kekayaan itu akan nampak kelihatan Tuhan akan menghiasi kita seperti bunga bakung yang ditanan di ladang bahkan lebih dari pada itu karena raja salomo dalam kekayaan nya iah tidak di dan-dan dengan keindahan dan kecantikan bunga bakung namun kita orang papua akan lebih lagi diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus dalam  kemegahan kita, kita akan di berkati oleh Tuhan denga mengasihi bangsa seperti bangsa indonesia ini

Jumat, 01 November 2013

Ribuan Umat Kristiani di Biak Peringati HUT GKI





Biak -Sedikitnya 30.000 umat Kristiani dari 57 jemaat gereja di Klasis Biak Selatan, Kabupaten Biak mengelar ibadah bersama memperingati Hari Ulang Tahun ke-57 Gereja Kristen Injili, di tanah Papua, Sabtu (26/10) pagi.
Dari Biak dilaporkan, hingga pukul 07.00 WIT situasi di kota Biak sekitarnya kondusif meski kota sepi karena ribuan umat Kristiani GKI di tanah Papua sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi sudah melakukan persiapan perayaan HUT GKI yang jatuh pada 26 Oktober 2013.
Berbagai kegiatan keagamaan digelar jemaat Kristiani Biak di antaranya gerak jalan bermasmur, karnaval jalan, ibadah bersama, hingga prosesi pengucapan syukur dilaksanakan jemaat setempat.
Sekretaris Klasis GKI Biak Selatan Pendeta Brury Wufwensa di Biak, Sabtu, mengatakan, peringatan HUT GKI di tanah Papua 26 Oktober 2013 dirayakan penuh suka cita warga Kristiani di Klasis Biak Selatan.
"Puncak peringatan HUT GKI di tanah Papua dilakukan ibadah oikumene antara jemaat GKI yang di kota dengan jemaat gereja di kampung/desa," ungkap Pendeta Brury.
Ia mengakui, setiap jemaat GKI di Klasis Biak Selatan diminta melakukan ibadah syukur sebagai ungkapan anugerah kasih Tuhan Kristus yang telah mewartakan Injil melalui wadah GKI Sinode di tanah Papua.
Pendeta Brury mengatakan, peristiwa hari ulang tahun GKI di tanah Papua yang diperingati 26 Oktober umat kristiani diharapkan menjadi momentum sejarah religius jemaat gereja.
"Peringatan HUT GKI yang senantiasa dirayakan jemaat gereja Kristiani se tanah Papua merupakan peristiwa keimanan yang selalu dikenang warga," ungkap Pendeta Brury Wufwensa.
Sementara itu, Sem Swabra, salah seorang jemaat GKI Effata Wafnor, mengakui, ia bersama keluarganya akan melakukan ibadah peringatan HUT GKI 26 Oktober 2013 ke jemaat geraja Padwa Sub Distrik Yendidori.
Hingga Sabtu pagi pukul 06.30 WIT berbagai jalan protokol kota Biak terlihat sepi dibanding biasanya karena perkantoran pemerintah, swasta, dan sekolah diliburkan.
Sedangkan situasi kota Biak sekitarnya tampak normal di mana berbagai kegiatan warga berjalan lancar seperti biasanya meski terlihat sepi.

Sumber: http://www.beritasatu.com/nusantara/146768-ribuan-umat-kristiani-di-biak-peringati-hut-gki.html