Mengenai Saya

Ketika kita diam maka semua sepertinya tidak ada persoalan tetapi ketika kita bersuara maka mereka akan tau bahwa kita mempunyai persoalan, yang harus di selesaikan. Kebenaran harus ditegakan, untuk mendapatkan kebenaran harus berjuang karena kebenaran telah tertindas, dan telah dengan sengaja ditutupi.....'aku merasa tertindas, apakah kamu merasa hal yang sama seperti aku sebelum aku akan mulai memposting blog ini aku mohon agar di mengerti semua bahasa atau kosa kata yang penulis buat di sini tidak ada komentar buat hal tidak benar dengan kata lain tidak membrikan ijin bagi siapapun yang menipu diri orang lain berarti telah menipu dirinya sendiri.........................

Selasa, 25 Maret 2014

TUJUAN MAU MENJENGUK KELUARGA KORBAN TIMIKA AKHIRNYA DI PALANG APARAT KEPOLISIAN DAN KEJADIAN SUDA SERING TERJADI

 
Jayapura,  20/3 (Jubi) – Ketua Sinode Gereja Kemah Injili (Kingmi) di Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay menyesalkan tindakan yang dilakukan aparat keamanan dengan memalang jalan sehingga para gembala tak dapat melayat di rumah duka korban yang tertembak oleh oknum polisi saat bentrok warga di Mimika.
“Kemarin tanggal 17 Maret 2014, kami sebagai gembala bermaksud mengunjungi keluarga dari pendeta jemaat kami yang tertembak oleh oknum polisi pada 11 Maret lalu di Timika. Tetapi kami diusir polisi yang sudah memalang jalan di Kuala Kencana,” kata Benny dalam jumpa persnya di Kantor Sinode Kingmi di Tanah Papua, Kota Jayapura, Papua, Kamis (20/3).
Benny mengatakan, kejadian ini bukan kali pertama terjadi di tanah Papua. Pada tahun lalu dirinya juga mendapatkan perluan serupa, yakni 16 – 17 Juli 2012 lalu, saat pihaknya bermaksud untuk menemui umat yang bentrok. Kedua belah pihak sudah menunggu pihaknya untuk berbicara kepada mereka secara terpisah dari hati ke hati sebelum berbicara tentang akar-akar persoalan.
“Tapi pagi-pagi jam lima, TNI-Polri sudah menggelar apel dan jam enam mereka sudah bergerak ke lokasi dari kedua kubu lalu melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah membuat masyarakat terpencar dan menggagalkan rencana pertemuan kami dengan umat kami,” jelas Benny.
Menurut Benny, hal ini perlu disampaikan karena pihaknya menilai akar persoalan Papua adalah persoalan antara dua kebudayaan, pemahaman dan penafsiran terhadap sejarah yang berbeda satu dengan yang lain.
“Persoalan itu hanya bisa diselesaikan dengan dialog. Hentikan segala bentuk kebijakan yang dilakukan untuk menghabiskan Papua secara perlahan tetapi pasti,” tutur Benny.
Atas dasar itulah, menurut Benny, pihaknya mengeluarkan surat terbuka terkait bentrok di Kabupaten Mimika dan secara keseluruhan di tanah Papua. Surat itu juga dilayangkan kepada Presiden RI, Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Polisi Sulistyo Pudjo Hartono saat dikonfirmasi terkait hal tersebut melalui telepon selulernya untuk sementara belum bisa dihubungi. “Saya sedang rapat,” tulisnya dalam Short Masage Service (SMS) kepada media ini saat menolak untuk ditelepon, Kamis (20/3)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar